Jumat, 04 September 2020

Ambivert

 Ambivert 

    Masa SMA adalah masa dimana seseorang mencari jati dirinya, berusaha menarik  perhatian dengan lawan jenis, dengan teman maupun dengan guru-gurunya. keaktifan saat bersosialisasi sangat diuji ketika masih SMA. Jika engkau pandai bersosialisasi, percaya diri yang tinggi, dan sering kali sok kenal dan sok asik sangat diperlukan untuk masalah yang satu ini. Dengan adanya sok asik ini mungkin akan mengganggu untuk sebagian orang yang kurang suka berbasa-basi, namun untuk urusan bersosialisasi sering kali cara itu bisa digunakan. Seperti hal nya ketika ada cewek-cewek bergerombol meskipun bukan berasal dari kelas kita yang notabenenya kita tidak terlalu akrab, dengan cara sok asik kita dapat ikut bergabung atau sekedar menyapa mereka. Namun hal itu cukup sulit dilakukan untuk orang yang kurang percaya diri. Namun dengan cara tersebut kita akan memiliki banyak kenalan/teman, ya walaupun bukan termasuk teman yang akrab dengan kita, namun hal tersebut dapat memperluas circel pertemanan kita. 

    Seperti hal nya saat masih SMA dengan semangat "bersenang-senang" yang masih menggebu-gebu, sangat mudah untuk saya pribadi memiliki banyak teman, walaupun tidak termasuk teman yang akrab, ya cuma bisa dibilang teman sapa, saat kita melihatnya kita akan secara spontan menyapa dan mengajaknya ngobrol walaupun cuma sebentar. Dengan memiliki kelompok main sendiri membuat tingkat percaya diri seseorang dapat meningkat, itulah salah satu pentingnya mengikuti organisasi. Awalnya saya tidak paham dengan maksud "mengikuti organisasi akan menambah relasi" dulu saya berpikir tanpa ikut organisasi pun tetap bisa kok memiliki banyak relasi. Namun setelah say amengikuti satu organisasi sewaktu di SMA ternyata yang dimaksud memiliki relasi adalah menambah tingkat kepercayaan diri seseorang untuk dapat bersosialisasi dengan orang lain, dengan adanya percaya diri yang lebih membuat kita tanpa perlu takut dan dianggap sok asik untuk sekedar basa-basi dengan seseorang yang baru saja kita kenal.

     Dengan memiliki kepercayaan diri yang cukup pada saat itu, saya merasa senang saat bertemu dengan orang baru, dengan bertemu dengan orang baru dan mengobrol dengan orang tersebut seakan-akan kita akan berpetualang dengan berbagai cerita hidup orang tersebut. Mungkin seorang ekstrovert akan merasakan hal yang sama seperti yang pernah saya rasakan ketika bertemu dengan orang baru. Dengan kebiasaan dikelilingi oleh orang banyak membuat kepercayaan diri seseorang akan terus terjaga. Namun seharusnya kepercayaan diri timbul dari dirinya sendiri bukan dari orang disekitarnya, karena jika percaya diri timbul dari dirinya sendiri maka orang tersebut tidka akan menggantukan dirinya dengan orang lain, seperti sering kali kasus yang terjadi "ahh aku gak mau ikut acara itu kalau kamu juga nggak ikut" hal tersebut merupakan contoh percaya diri yang belum seutuhnya timbul dari dirinya sendiri. Ya saya pun sering kali masih merasa begitu, belum sepenuhnya percaya terhadap diri sendiri.

    Namun setelah lulus dari bangku SMA kemudian satu persatu sahabat yang sebelumnya bisa bertemu setiap hari lalu seakan-akan dipaksa harus berpisah demi melanjutkan pendidikan yang selanjutnya. Dan benar kata beberapa orang, setelah lulus SMA maka akan merasakan hidup yang sesungguhnya, walaupun semasa SMA juga sudah hidup namun beberapa orang mengatakan bahwa itu belum hidup yang dianggap sesunggunya (serius), karena massa sma kita masih meminta uang jajan, masih dapat bermain-main saat dikelas, dan masih banyak lagi ksesruan yang seakan-akan tanpa memikirkan sedikitpun beban hidup yang belum bernah ia rasakan. 

    Setelah lulus SMA beberapa teman yang lain sudah melanjutkan ke beberapa kampus impiannya, namun lain halnya dengan aku, aku memutuskan untuk gap year/tidak langsung melanjutkan untuk berkuliah dan memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu. Ya aku pernah bekerja di salah satu pabrik di bagian office yaitu sebagian admin HRD. Dengan posisi tersebut membuat cara berkerja yang hampir 90% hanya menatap layar komputer untuk  memasukan daftar lembur, mengurus kehadiran, dll. Dengan cara kerja yang seperti itu membut sangat jarang sekali berinteraksi dengan teman-teman yang lain, dan ruangan HRD dipisahkan oleh pintu kaca sedangkan beberapa staff yang lain bekerja secara berhadap-hadapan di beberapa meja yang sama. Dengan bekerja secara berhadap-hadapan membuat mereka dengan leluasa berinteraksi dengan sesama rekan kerjanya. Sedangkan aku didalam ruangan hanya ada 2 orang yaitu saya sendiri dan mbak HRD atau atasan saya. Dengan pekerjaan yang lumayan banyak membuat jarang sekali mengobrol mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting, kami mengobrol sering kali hanya membahas masalah pekerjaan.

    Komputer, hedseet dan hp adalah teman dekat saya ketika sedang bekerja. Dengan bekerja sambil mendengarkan podcast horor membuat akan lebih fokus dalam bekerja. Dengan memiliki teman yang tak bernyawa membuat saya menjadi malas untuk basa-basi seperti biasanya, dengan jarangnya mengobrol dan berinteraksi dengan seseorang membuat kepercayaan diri seakan-akan hilang entah kemana. Kurang lebih empat bulan saya bekerja dengan jarangnya berinteraksi membuat minder ketika harus bertemu dan berinteraksi dengan orang baru. Namun jika orang baru tersebut enak untuk diajak mengobrol dan maka itu akan sedikit membantu mengimbangi ketika berinteraksi, namun jika lawan bicara pun orang yang mungkin kurang percaya diri membuat hal tersebut semangkin menyulitkan untuk kita saling berinteraksi.

    Memasuki bangku perkuliahan. Aaarrghhh aku merasa sangat asing waktu itu. Seperti hal nya anak kecil yang beru pertama kali memasuki bangku Sekolah Dasar dan enggan untuk ditinggal orang tuanya, dan diharuskan untuk berkenalan dengan teman-teman lainnya. Ya aku merasa seperti anak yang baru masuk SD dan disuruh untuk perkenalan di depan kelas.

    Sering kali memaksakan diri untuk kembali sperti masa SMA, masa dimana dengan sangat mudahnya bergaul tanpa takut dianggap sok kenal dan sok asik. Sering kali memaksakan diri untuk bersosialisasi dan bergabung dengan kelompok yang lain, namun dengan menghabiskan waktu kurang lebih empat bulan dan jarang berinteraksi dengan orang lain membuat seakan-akan mulut enggan untuk basa-basi dengan orang lain. Mulut seakan-akan hanya ingin mengeluarkan kata-kata yang penting-penting saja. Semakin dipaksakan sering kali malah terasa aneh dan bukan menjadi diri sendiri. Sudah terlalu nyaman berbincang dengan diri sendiri ketika dikeramaian. Namun juga tidak menutup kemungkinan akan terlihat aktif di lain kondisi. Setelah selesai kelas sangat nyaman ketika dihabiskan dengan kembali ke tempat tinggal dan dihabiskan dengan tidur siang/menonton film/hal-hal yang dilakukan dengan benda-benda elektronik lainnya. 

    Ekstrovert kemudian menjadi introvert mungkin akan terasa sangat tidak nyaman diawal karena yang mula nya memiliki banyak teman dan seakan-akan terasa dibatasi lingkup pertemanannya. Mungkin sebagian orang pun akan merasakan hal yang sama, semakin dewasa lingkup pertemanan akan terasa semakin sempit, teman akan dirasa hanya itu-itu saja, entah banyak orang yang merasakan hal tersebut atau hanya aku yang merasa kesulitan untuk seperti dahulu lagi dengan bergaul kesana-kesini. 

    Apapun itu mau introvert atau ekstrovert yang penting kita nyaman dengan diri kita sendiri, kita bahagia walaupun dengan cara kita sendiri. Bukan aib juga untuk menjadi introvert yang sering kali terlihat kasihan karena kesana-kesini hanya sendiri, sebenarnya mereka para introvert tidak memerlukan untuk dikasihani, seperti yang mungkin saya rasakan. Semenjak kakak perempuan saya menikah saya kehilangan teman untuk bermain ke beberapa tempat seperti sebelumnya, dengan begitu saya akan sering main,makan bahkan ketempat yang dianggap jauh pun terkadang yang melakukannya sendiri dan hal tersebut saya rasa tidak perlu di kasihani, karena saya sendiri nyaman untuk hal itu. Dan terkadang untuk tampil di depan banyak orang pun saya tidak terlalu minder namun juga sangat nyaman ketika sedang sendirian.

    Introvert maupun ekstrovert berhak bahagia dengan caranya masing-masing :)

     

Sabtu, 13 Juni 2020

Kita pandai dibidang kita masing-masing

         ''enak yang jadi si itu udah cantik, pinter, udah kayak gak ada beban di hidupnya" batin ku selalu mendambakan hidup seseorang. Sedangkan hidupku gini-gini aja dari dulu. Apa sih yang salah kayak gak pantes banget ya hidup enak, selalu aja merendah kalau lihat orang yang kelihatannya waw gitu hehe. Itu semua salah satu bentuk kita yang gak mengenal diri kita sendiri. Seakan-akan waktu hanya digunakan untuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita memerlukan banyak waktu lagi untuk mengenal sosok diri kita sendiri, apresiasi untuk diri sendiri sangat berpengaruh besar pada kebahagiaan dan penghargaan kepada diri sendiri. 
           Dibalik prasangka kita atas "enak ya hidupnya kayak nggak ada beban hidup gitu" kita nggak tau apa yang sebenarnya yang mereka rasakan. Seperti ada seseorang yang pernah bilang sama saya ''kok kamu pinter banget sih ngatur waktu buat kuliah sambil kerja, aku aja yang cuma kuliah keteteran kok", mohon maaf nih ya dibalik kata "pinter banget ngatur waktunya" selalu ada tangis dan sedikit raungan kesal karena hampir telat mengumpulkan tugas, pusing karena kurang tidur, badan udah kayak habis di gebukin warga, dan  masih banyak lagi pengorbanan dari segi fisik dan psikis untuk mengatur waktu antara kuliah , kerja dan mengerjakan tugas-tugas yang sering kali menguras banyak waktu.
         Terkadang di balik kata enak ya terdapat beberapa pengorbanan dalam menjalani nya, seringkali orang hanya melihat luarnya saja (enaknya saja) tanpa mengetahui seberapa kuat beban yang dirasakan. Dan di balik ke insecure.an kita percayalah diluar sana banayk yang mengharapkan beberapa kelebihan yang mungkin tidak kita sadari, seperti mungkin saja ada orang yang menginginkan pandai mengatur waktu seperti yang telah seseorang rasa kepada saya, padahal sering kali saya merasa minder dengan menjalani apa yang saat ini sednag saya jalani.
         "enak yang dia nggak perlu bersusah payah mendapatkan yang diinginkan karena udah di sediain oleh orang tuanya" kalimat tersebut seringkali terlintas ketika kita sedang bersusah payah hanya untuk mendapatkan satu  barang saja (handphone). Orang kain bisa saja minta dengan merk apa saja yang mereka inginkan, sedangkan kita harus bekerja melebihi waktu yang seharusnya hanya untuk satu barang. Tetapi dari situ ketika kita berhasil mendapatkan barang tersebut kita memiliki kepuasan yang lebih dibandingkan orang lain yang mungkin saja dapat meminta dan memilih dengan mudah. Seringkali yang kita anggap beban namun diakhir pencapaian kita akan menganggap itu semua sebagai proses, kepuasan yang didapatkan akan sangat berasa jika kita melalui dengan cara proses yang lebih kejam dan lebih sulit lagi. 
          Mencoba berhenti insecure memanglah sulit, namun tak ada salah nya mencoba. Mengenal diri sendiri sebagai sosok yang tangguh dan menanamkan pemikiran bhwa kita memiliki keahlian di bidang lain dan tidak dpat disamakan dengan orang lain akan lebih membantu kita agar lebih pandai bersyukur. Tidak perlu dipaksakan jika kita bodoh di bidang yang orang lain jalankan, seperti saya merasa sangat bodoh ketika berada diantara teman-teman yang saya anggap sangat lah pintar dalam bidang akademik, sering kali saya bangga dan takjub dengan kecerdasan yang mereka miliki. Mereka dapat menjawab pertanyaan tanpa memabolak -balik buku catatan yang dimiliki. sedangkan saya udah jelas-jelas jawaban nya ada di depan mata tetap saja bingung bagaimana merangkai kata untuk menjawabnya. Namun disatu sisi benar saya memiliki sedikit keahlian di bidang lain, mungkin di bidang mengatur waktu yang mungkin saja dirasa sulit untuk orang lain, seringkali saya mengolah barang-barang bekas menjadi hiasan dinding atau kerajjinan tangan lainnya yang mungkin dirasa sulit untuk orang lain, dan jika digali lebih dalam lagi dan kita mencoba mengenal diri kita sendiri maka kita akan semakin menghargai diri kita sendiri.
         "Aku di kelas juga kayak orang di hipnotis, gak inget apa-apa dan gak paham apa-apa" banyak yang serinng mengeluhkan hal itu, tetapi coba dilihat di bidang lain, mungkin kamu memiliki skill yang lebih ketika bermain futsal dengan teman-teman, mungkin kalian memiliki tubuh yang luwes ketika menari, mungkin kalian memiliki fisik yang kuat untuk kegiatan outdor yang sangat menyenangkan, mungkin lkalian pandai meracik bumbu-bumbu masakan yang begitu rumit jika tidak terbiasa, mungkin kalian memiliki keahlian dengan kuda-kuda dan teknik-teknik lain mengenai bela diri yang begitu sulit, mungkin kalian pandai dalam memainkan kata-kata yang indah untuk dituangkan kedalam puisi yang sedang kalian ciptakan, dan mungkin kalian pandai memainkan jari-kari untuk memetik senar-senar kitar atau memainkan tut piano yang mungkin teman-teman kalian yang pandai dalam bidang akademik sangat kesulitan ketika menjalani bidang yang kalian bisa lakukan dengan sangat mudah.
         Sejujurnya kekhawatiran lain yang saya rasakan memang mengenai akademik, bukan saya saja yang merasakan mungkin banyak dari teman saya yang merasakan juga. Takut jika nilainya jelek, takut jika IP dan IPK turun, takut kalau IP dan IPK turun nanti diledekin dan dianggap bodoh oleh orang lain, ketakutan dari satu saja yaitu mengenai akademik bisa berdampak dan berpengaruh terhadap kekhawatiran-kekhawatiran lain, seperti takut kehidupan sosialnya juga berubah (diledekin, disiangka tidak rajin, disangka tidak pernah belajar) dan banyak lagi yang terkena dampak dari satu saja alasan yaitu akademik, belum lagi jika kita mempermasalakan bidang-bidang lain. Bisa saja jiwa lama-lama ikut bermasalah. Sudahlah jalani saya apa yang sedang terjadi, kita sudah berusaha sekuat yang kita bisa, kita juga sudah berdoa kepada Allah untuk hasilnya, jika Allah memberinya yang seperti itu anggap saja itu untuk pelajaran, untuk teguran dan untuk membuat kita semakin kuat lagi. 
         Stop membandingkan dna mulailah bersyukur dengan yang dimiliki saat ini, sebelum semuanya hilang karena kita tidak mensyukurinya. Kamu mungkin kurang mengerti di bidang akademik, namun kamu memilki keahlian di bidang lain jalani dengan baik dan tekuni apa yang kamu sukai. Kita semua pandai dalam bidang kita masing-masing :)

Rabu, 13 Mei 2020

nosstress

nosstress.khotijah utami
Utami.khotijah44@gmail.com       Jam tidur kurang, jam tidur berantakan, gak sempat makan, gak sempat nyuci, gak sempat me time, and blaa blaa blaa. Itulah yang sering kita ucapkan ketika kita sibuk dengan urusan dan kerjaan kita, entah benar-benar sibuk ataukah hanya pura-pura sibuk. Sering kali sebagian dari kita seakan-akan mencari-cari alasan untuk seakan-akan sibuk dengan banyak sekali pekerjaan dan deadline yang mepet, padahal itu sering kali hanya  kita saja yang membuat semua seakan-akan bertabrakan antara tugas satu dengan tugas yang lainnya. 
       Dari mulai membuka mata di pagi hari kita seolah-olah sudah memikirkan banyak sekali hal dan pekerjaan yang kenyataannya tidak sebanyak yang kita pikirkan tersebut, iya kan? seperti yang terjadi pada para pelajar dan mahasiswa saat ini, ditengah pandemi yang sedang berlangsung ini nmembuat semua seakan-akan disibukkan oleh banyak hal, seperti yang sering saya atau mungkin kalian alami, saat baru membuka mata saat bangun tidur saya sudah memikirkan tugas kuliah yang begitu menumpuk, dengan rencana setelah sahur kemudian sholat subuh lalu melanjutkan tidur kemudian dengan rencana bangun pukul 7 pagi karena ada kelas pagi pada pukul 07:30, namun karena malamnya begadang mengerjakan tugas-tugas yang lain membuat tubuh dan mata sulit sekali diajak untuk bangun pagi, dan akhirnya pukul setengah 8 baru bisa bangun, dan itu baru terlambat dari rencana awal untuk bangun pukul 7, sejak saat itu sudah muncul badmood yang pertama di satu hari, kemudian dengan bangun yang dirasa sudah terlambat yang awalnya setelah bangun tidur kita langsung mandi dan beres-beres rumah terlebih dahulu menjadi hanya cuci muka, dan langsung menghadap ke laptop masing-masing. Dengan kondisi yang masih sangat mengantuk karena hanya cuci muka saja dikarenakan takut terlambat mengikuti kuliah pagi, dan denagn kondisi kepala pusing karena seakan-akan dipaksa untuk bangun, dan badan yang lemas karena belum terlalu banyak melakukan aktivitas membuat tidka semangat dan tidak fokus melakukan perkuliahan pagi.
        Ditengah-tengah tidak fokus itulah mucul ingatan mengenai tugas yang belum selesai padahal dirasa sudah sering dikerjakan. Dari situ muncul lagi kekhawatiran mengenai sesuatu yaitu tugas, saat mengerjakan tugas kita juga khawatir tidak bisa maksimal mengikuti perkuliahan yang sedang berlangsung. Saat mengerjakan tugas baru sampai pada dasar teori kita dikhawatirkan dengan pengerjaan hasil dan pembahasan, kita sudah memikirkan "bagaimana ya caranya dapatin hasil itu", "itu rumusnya gimana ya", "kok bisa gitu yang hasilnya", padahal kita baru sampai dasar teori atau bahkan baru sampai di langkah kerja namun dengan kekhawatiran itu lah menyebabkan seakan-akan sulit sekali mengerjakan tugas ini. Setelah selesai mengerjakan tugas, kita di khawatirkan lagi dengan pertanyaan yang sering muncul atau bahkan yang sering kita buat sendiri, "benar nggak ya ini nanti jawabnya", "nanti kalo salah gimana ya", "nanti kalo jawabannya beda sama punya yang lain gimana ya", pertanyaan seperti itu sangat mengganggu dan membuat kekhawatiran semakin memucak, setelah pertanyaan tersebut mucul lagi pertanyaan mengenai "nanti aku lulus gak ya di mata kuliah ini", "nanti nilai ku turun nggak ya di semester ini", aaarrrrggghhhhhhh, dengan banyak nya pertanyaan yang sering berlalu-lalang di kepala entah itu muncul dengan sendirinya atau mungkin kita sendiri yang membuat semua pertanyaan itu muncul yang membuat semua semakin rumit. 
       Dengan kasus seperti itu dari mulai kita bangun tidur hingga hendak tidur seakan-akan tidak terlepas dari semua kekhawatiran mengenai akademik. Kita sering kali khawatir dan terlalu memikirkan hal yang belum terjadi. Boleh saja memikirkan masa depan, dan itu sebenarnya hal yang diharuskan untuk memikirkan masa depan, namun seringkali kita atu mungkin hanya saya yang merasa seperti itu, dengan kekhawatiran mengenai hal yang belum jelas hasil atau terjadinya, membuat hari seolah berlalu dengan sangat sia-sia, waktu 24 jam seakan-akan selalu saja tidak penah cukup untuk hanya menyelesaikan satu tugas. Pikiran kita sendiri yang membuat smeua menjadi runyam, kita yang terlalu memikirkan "bagaimana ini nanti jika tidak dikerjakan sekarang", teman-teman sudah hampir selesai sedangkan saya belum dapat apa-apa", hal-hal seperti itu menghambat kita melakukan hal lain. seolah-olah waktu 24 jam hanya untuk tugas  tersebut. karena tugas tersebut pula lah kita melalikan orang-orang disekitar kita, seperti saat orang tua menyuruh kita membeli sesuatu ke warung/pasar kita berdalih sedang mengerjakan banyak tugas padahal bisa saja tugas tersebuat dapat dikerjakan dengan waktu yang lebih cepat, namun kita yang merantai waktu kita hanya untuk tugas tersebut, sehingga kita tidak melaksanakan perintah dari orang tua, kita lupa makan, kita menunda ibadah dan kita menjadi menunda banyak hal dan hanya fokus kepada satu gal saja.
         Banyaknya alasa yang kita buat sendiri membuat kita mengabaikan banyak hal disekitar kita, mengabaikan waktu, mengabaikan orang-orang disekitar, mengabaikan momen yang mungkin terjadi pada saat itu. Kita selalu merasa disibukan hingga tidak dapat menikmati waktu yang sedang berlalu begitu saja, orang-orang disekitar kita menjadi terkena dampak dari rasa kesal, rasa khawatir, rasa cemas dan rasa lelahnya tubuh. Kita menjadi lebih sensitf, tempramental, mudah badmood untuk banyak hal. Kita menjadi marah-marah pada orang-orang disekitar kita, kita mengabaikan waktu bersama mereka, kita mengabaikan perintah mereka, dan masih banyak lagi dampak dari itu semua.
         Coba pola pikir kita dirubah atau diperbaiki sedikit demi sedikit, kita anggap semua tugas-tugas itu mudah dan dapat dikerjakan dengan waktu yang lebih cepat, kita yakin kita bisa mengerjakan tugas tersebut dengan berbagai rumus, kita dapat mengendalikan semua tugas-tugas dengan mudah di pikiran kita. Dengan begitu tubuh dan pikiran perlahan-lahan akan lebih relaks lagi. Coba praktekkan, saat sedang pusing-pusing nya, saat sudah dirasa hampir menyerah karena sangat sulit tugas ysng sedang dihadapi, coba tarik nafas panjang dilakukan dengan perlahan, kemudian coba pakai headseet dan nyalakan musik dengan nada santai, atau mungkin bisa nyalakan musik indie atau musik lain yang kalian suki, kemudian pejamkan mata kalian, lalu bayangkan kalian sedang di tempat yang mungkin pernah kalian kunjungi, atau yang ingin kalian kunjungi, seperti yang saya lakukan di tenag-tengah mengerjakan laporan praktikum yang hampir membuat gila, hehe lebay ya, ditenga-tengah hampir nyerah karena sulit banget pengerjaannya, saya udah bodoamat dengan laporan saya waktu itu, saya pinggirkan terlebih dahulu tugas-tugas saya, kemudian saya kenakan headseet say adan saya nyalakan musik indie, yang waktu itu saya mendengarkan lagu milik nosstress yang berjudul Istirahat, liriknya begitu pas dengan kondisi saya yang sangat butuh istirahat, kemudian saya tarik nafas panjang panjang, saya keluarkan dengan perlahan kemudian saya pejamkan mata saya, dan saya membayangkan saat saya sedang mendaki gunung. Saya membayangkan saya sedang mendaki gunung waktu itu, tubuh yang seakan-akan sedang dipenjara karena tugas dan karena kondisi karantina yang sedang di perintahkan, namun pikiran saya dapat berkelana ke gunung-gunung yang pernah saya naikin, dan membayangkan tempat-tempat lain yang ingin saya kunjungi.
        Setelah itu saya merasa sangat bebas tanpa ikatan tugas-tugas yang sedang menumpuk. Badan dan pikiran berasa lebih sehat dan lebih relaks lagi, dengan hal sesimpel itu membuat perasaan menjadi lebih baik lagi. sebenarnya kita sendirilah yang menciptakan berbagai kondisi yang kita jalani, kalau kita merasa sulit pasti akan dirasa sulit, jika kita merasa malas pasti akan malas mengerjakannya, jika kita merasa bebas dan mudah maka akan lebih mudah lagi dalam mengerjakan sesuatu. Apapun itu kita mulai dari pikiran kita, tubuh kita dikendalikan oleh pikiran kita. Coba saja saat saya merasa hampir nyerah karena tugas yang begitu sulit, dan saya paksakan tetap mengerjakan tanpa ada jeda dan relaksasi seperti yang saya lakukan, mungkin saja saya tetap merasa sulit mengerjakannya dan bahkan semakin sulit. Jika kita menghadapi suatu kendala, maka istirahat dan tarik nafas panjang-panjang dan bayangkan sesuatu yang indah, maka akan lebih mudah menghadapi segala sesuatu hal.
        Saya menulis ini saat hendak tidur, ya saya tidur dengan nenek saya, saya menatap wajah nenek saya, dan saya merasa sudah melewatkan hari-hari dengan sangat sia-sia, yaitu mengabaikan waktu dengan nenek saya, saya juga menjadi marah dengan teman saya karena merasa badan sudah sangat leleh dan tidak ada yang dapat membantu. Semua rasa lelah, rasa bersalah, rasa sia-sia menghampiri ketika kita hendak tidur, seakan-akan kita mengingat-ingat semua hal yang berlalu dengan sia-sia. Kemudian saya meminta maaf kepada teman saya, saya memeluk nenek saya yang sedang tidur, saya akan berusaha membuat semua hal dapat dilalui dengan mudah dan menyenangkan, ya walaupun sangat sulit untuk mempraktekkannya, namun saya akan mencoba sedikit demi sedikit. Judul kali ini nosstress saya terinspirasi dari nama grup band yang lagunya saya dengarkan ketika saya sedang merasa lelah dan butuh istirahat.