''enak yang jadi si itu udah cantik, pinter, udah kayak gak ada beban di hidupnya" batin ku selalu mendambakan hidup seseorang. Sedangkan hidupku gini-gini aja dari dulu. Apa sih yang salah kayak gak pantes banget ya hidup enak, selalu aja merendah kalau lihat orang yang kelihatannya waw gitu hehe. Itu semua salah satu bentuk kita yang gak mengenal diri kita sendiri. Seakan-akan waktu hanya digunakan untuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita memerlukan banyak waktu lagi untuk mengenal sosok diri kita sendiri, apresiasi untuk diri sendiri sangat berpengaruh besar pada kebahagiaan dan penghargaan kepada diri sendiri.
Dibalik prasangka kita atas "enak ya hidupnya kayak nggak ada beban hidup gitu" kita nggak tau apa yang sebenarnya yang mereka rasakan. Seperti ada seseorang yang pernah bilang sama saya ''kok kamu pinter banget sih ngatur waktu buat kuliah sambil kerja, aku aja yang cuma kuliah keteteran kok", mohon maaf nih ya dibalik kata "pinter banget ngatur waktunya" selalu ada tangis dan sedikit raungan kesal karena hampir telat mengumpulkan tugas, pusing karena kurang tidur, badan udah kayak habis di gebukin warga, dan masih banyak lagi pengorbanan dari segi fisik dan psikis untuk mengatur waktu antara kuliah , kerja dan mengerjakan tugas-tugas yang sering kali menguras banyak waktu.
Terkadang di balik kata enak ya terdapat beberapa pengorbanan dalam menjalani nya, seringkali orang hanya melihat luarnya saja (enaknya saja) tanpa mengetahui seberapa kuat beban yang dirasakan. Dan di balik ke insecure.an kita percayalah diluar sana banayk yang mengharapkan beberapa kelebihan yang mungkin tidak kita sadari, seperti mungkin saja ada orang yang menginginkan pandai mengatur waktu seperti yang telah seseorang rasa kepada saya, padahal sering kali saya merasa minder dengan menjalani apa yang saat ini sednag saya jalani.
"enak yang dia nggak perlu bersusah payah mendapatkan yang diinginkan karena udah di sediain oleh orang tuanya" kalimat tersebut seringkali terlintas ketika kita sedang bersusah payah hanya untuk mendapatkan satu barang saja (handphone). Orang kain bisa saja minta dengan merk apa saja yang mereka inginkan, sedangkan kita harus bekerja melebihi waktu yang seharusnya hanya untuk satu barang. Tetapi dari situ ketika kita berhasil mendapatkan barang tersebut kita memiliki kepuasan yang lebih dibandingkan orang lain yang mungkin saja dapat meminta dan memilih dengan mudah. Seringkali yang kita anggap beban namun diakhir pencapaian kita akan menganggap itu semua sebagai proses, kepuasan yang didapatkan akan sangat berasa jika kita melalui dengan cara proses yang lebih kejam dan lebih sulit lagi.
Mencoba berhenti insecure memanglah sulit, namun tak ada salah nya mencoba. Mengenal diri sendiri sebagai sosok yang tangguh dan menanamkan pemikiran bhwa kita memiliki keahlian di bidang lain dan tidak dpat disamakan dengan orang lain akan lebih membantu kita agar lebih pandai bersyukur. Tidak perlu dipaksakan jika kita bodoh di bidang yang orang lain jalankan, seperti saya merasa sangat bodoh ketika berada diantara teman-teman yang saya anggap sangat lah pintar dalam bidang akademik, sering kali saya bangga dan takjub dengan kecerdasan yang mereka miliki. Mereka dapat menjawab pertanyaan tanpa memabolak -balik buku catatan yang dimiliki. sedangkan saya udah jelas-jelas jawaban nya ada di depan mata tetap saja bingung bagaimana merangkai kata untuk menjawabnya. Namun disatu sisi benar saya memiliki sedikit keahlian di bidang lain, mungkin di bidang mengatur waktu yang mungkin saja dirasa sulit untuk orang lain, seringkali saya mengolah barang-barang bekas menjadi hiasan dinding atau kerajjinan tangan lainnya yang mungkin dirasa sulit untuk orang lain, dan jika digali lebih dalam lagi dan kita mencoba mengenal diri kita sendiri maka kita akan semakin menghargai diri kita sendiri.
"Aku di kelas juga kayak orang di hipnotis, gak inget apa-apa dan gak paham apa-apa" banyak yang serinng mengeluhkan hal itu, tetapi coba dilihat di bidang lain, mungkin kamu memiliki skill yang lebih ketika bermain futsal dengan teman-teman, mungkin kalian memiliki tubuh yang luwes ketika menari, mungkin kalian memiliki fisik yang kuat untuk kegiatan outdor yang sangat menyenangkan, mungkin lkalian pandai meracik bumbu-bumbu masakan yang begitu rumit jika tidak terbiasa, mungkin kalian memiliki keahlian dengan kuda-kuda dan teknik-teknik lain mengenai bela diri yang begitu sulit, mungkin kalian pandai dalam memainkan kata-kata yang indah untuk dituangkan kedalam puisi yang sedang kalian ciptakan, dan mungkin kalian pandai memainkan jari-kari untuk memetik senar-senar kitar atau memainkan tut piano yang mungkin teman-teman kalian yang pandai dalam bidang akademik sangat kesulitan ketika menjalani bidang yang kalian bisa lakukan dengan sangat mudah.
Sejujurnya kekhawatiran lain yang saya rasakan memang mengenai akademik, bukan saya saja yang merasakan mungkin banyak dari teman saya yang merasakan juga. Takut jika nilainya jelek, takut jika IP dan IPK turun, takut kalau IP dan IPK turun nanti diledekin dan dianggap bodoh oleh orang lain, ketakutan dari satu saja yaitu mengenai akademik bisa berdampak dan berpengaruh terhadap kekhawatiran-kekhawatiran lain, seperti takut kehidupan sosialnya juga berubah (diledekin, disiangka tidak rajin, disangka tidak pernah belajar) dan banyak lagi yang terkena dampak dari satu saja alasan yaitu akademik, belum lagi jika kita mempermasalakan bidang-bidang lain. Bisa saja jiwa lama-lama ikut bermasalah. Sudahlah jalani saya apa yang sedang terjadi, kita sudah berusaha sekuat yang kita bisa, kita juga sudah berdoa kepada Allah untuk hasilnya, jika Allah memberinya yang seperti itu anggap saja itu untuk pelajaran, untuk teguran dan untuk membuat kita semakin kuat lagi.
Stop membandingkan dna mulailah bersyukur dengan yang dimiliki saat ini, sebelum semuanya hilang karena kita tidak mensyukurinya. Kamu mungkin kurang mengerti di bidang akademik, namun kamu memilki keahlian di bidang lain jalani dengan baik dan tekuni apa yang kamu sukai. Kita semua pandai dalam bidang kita masing-masing :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar